MAKALAH SBJJ

MAKLAH I

 

  1. 1.      A.  Pendahuluan

Dalam era global seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak ‘gagap’ teknologi.

Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) telah berkembang dengan sangat pesat sehingga sudah merupakan gejala dunia. Teknologi itu sudah menjadi bagian kebudayaan Indonesia sejak dikembangkannya sistem komunikasi satelit domestik. Dijelaskan dalam Undang-undang Dasar (UUD) Negara Indonesia pada pasal 31, ayat 4 yang berbunyi sebagai berikut:

“Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”.

Dengan adanya penjelasan UUD di atas, ini menjadi landasan bagi Indonesia untuk lebih memajukan teknologi yang semakin hari terus berkembang, dan perkembangan tersebut termasuk di dalamnya adalah pendidikan.

Pentingnya pendidikan bagi mencerdaskan kehidupan bangsa sudah sangat disadari oleh para tokoh bangsa, dan dengan tegas menuangkannya dalam pasal 31 UUD 1945 “setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”.

Pendidikan sebagai salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia nampaknya tidak berlebihan apabila dikatakan demikian. Meskipun  secara makro peningkatan SDM juga mencakup aspek sosial dan ekonomi, akan tetapi dimensi utama dan kuncinya adalah pendidikan.

Dengan alasan tersebut, sangatlah wajar jika pemerintah menjadikan Pendidikan Jarak Jauh sebagai satu diantara usaha dalam pembangunan pendidikan dengan maksud peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dengan pembahasan di atas, dalam kesempatan ini penulis akan membahas upaya pemerintah dalam peningkatan pemerataan pendidikan yaitu Pendidikan Jarak Jauh. Adapun fokus yang di bahas adalah Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) pada Pendidikan Jarak Jauh di Indonesia dan di dalamnya akan lebih di rincikan kembali dengan adanya Universitas Terbuka (UT) di Indonesia secara umum, dan Universitas Terbuka di Palembang Secara khusus.

Dari pembahasan di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah Sejarah Pendidikan Jarak Jauh Di Indonesia?
  2. Bagaimanakah Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dalam Institusi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)?
  3. Bagaimanakah Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan dan Institusi Pendidikan Jarak Jauh: Universitas Terbuka (Universitas Terbuka di Palembang)?

Adapun tujuan dari makalah ini adalah adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui sejarah Pendidikan Jarak Jauh di Indonesia
  2. Untuk mengetahui bagaimanakah peranan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dalam Institut Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)?
  3. Untuk mengetahui bagaimanakah peranan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dan Institusi Pendidikan Jarak Jauh, khususnya pada Universitas Terbuka Palembang.
  1. B.  Sejarah SBJJ

Pendidikan jarak jauh adalah sekumpulan metoda pengajaran dimana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Pemisah kedua kegiatan tersebut dapat berupa jarak fisik, misalnya karena peserta ajar bertempat tinggal jauh dari lokasi institusi pendidikan. Pemisah dapat pula jarak non-fisik yaitu berupa keadaan yang memaksa seseorang yang tempat tinggalnya dekat dari lokasi institusi pendidikan namun tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di institusi tersebut. Keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar adalah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh.

Sistem pendidikan jarak jauh merupakan suatu alternatif pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas. Pada sistem pendidikan pelatihan ini tenaga pengajar dan peserta didik tidak harus berada dalam lingkungan geografi yang sama .

Dalam kata pengantarnya, Suparman (dalam  Asandhimitra, 2004: iii) Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) mulai dikenal setelah Inggris dengan Open University-nya menyelenggarakan pendidikan dengan modus jarak jauh. Keberhasilan PJJ di Inggris ini segera menarik perhatian Negara-negara lain untuk menyelenggarakan PJJ. Jumlah Negara-negara yang menyelenggarakan PJJ semakin lama semakin banyak, tidak hanya di Negara-negara maju dengan teknologi tinggi, akan tetapi juga di Negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.

Di Indonesia PJJ memiliki sejarah yang cukup panjang. Bahkan sejak zaman kolonial berbagai kursus tertulis telah dikenal. Setelah kemerdekaan berbagai bentuk layanan Belajar Jarak Jauh (BJJ) diselenggarakan dengan sasaran yang beragam, seperti kursus tertulis telah dikenal. Setelah kemerdekaan berbagai bentuk layanan belajar jarak jauh diselenggarakan dengan sasaran beragam, seperti kursus guru tertulis, Program Akta V Jarak Jauh, Program Belajar Jarak Jauh untuk meningkatkan kualifikasi guru, Sekolah Dasar Pamong, dan SMP terbuka (Prawiradilaga, 2004: 265).

Sementara itu rambu-rambu kebijakan dalam pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh Secara tersurat termaktub di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional”. Rumusan tentang PJJ terlihat pada BAB VI Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan pada Bagian Kesepuluh PJJ pada Pasal 31 berbunyi : (1) Pendidikan Jarak Jauh diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan; (2) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau regular; (3) Pendidikan Jarak Jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standard nasional pendidikan; (4) Ketentuan mengenai penyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah (Sanaky, 2011: 209).

Hal tersebut di atas, menunjukan kepada kita bahwa PJJ merupakan program pemerintah yang perlu terus didukung. Pemerintah merasakan bahwa kondisi pendidikan negeri kita perlu terus dibenahi, dan tentunya diperlukan strategi yang tepat, terencana dan simultan. Selama ini belum tersentuh secara optimal, karena banyak hal yang juga perlu dipertimbangkan dan dilakukan pemerintah di dalam kerangka peningkatan kualitas sektor pendidikan.

Pada kondisi awal, PJJ sudah dijalankan oleh pemerintah melalui berbagai upaya, baik melalui Belajar Jarak Jauh (BJJ) yang dikembangkan oleh Universitas Terbuka, maupun Pendidikan Jarak Jauh yang dikembangkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Departemen Pendidikan Nasional, melalui program pembelajaran multimedia, dengan program SLTP dan SMU Terbuka, Pendidikan dan Latihan Siaran Radio Pendidikan.

Berkenaan dengan itu, yang pasti sasaran dari program PJJ tidak lain adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa yang belum tersentuh mengecap pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan tidak terkecuali anak didik yang sempat putus sekolah, baik untuk pendidikan dasar dan menengah. Demikian pula bagi para guru yang memiliki sertifikasi lulusan SPG/SGO/KPG yang karena kondisi tempat bertugas di daerah terpencil, pedalaman, di pegunungan, dan banyak pula yang dipisahkan antar pulau, maka peluang untuk mendapatkan pendidikan melalui program PJJ mutlak terbuka lebar. Perlu dicatat bahwa pemerintah telah melakukan dengan berbagai terobosan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Upaya keras yang dilakukan adalah berkaiatan dengan lokalisasi daerah terpencil, pedalaman yang sangat terbatas oleh berbagai hal, seperti transportasi, komunikasi, maupun informasi. Hal ini sesegera mungkin untuk diantisipasi, sehingga jurang ketertinggalan dengan masyarakat perkotaan tidak terlalu dalam, dan segera untuk diantisipasi.

  1. C.  Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dan Institusi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Teknologi Informasimenurut Haag dan Keen (dalam Kadir, 2005: 2) adalah seperangkat alat yang membantu kita bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. Selanjuntya Martin (Kadir, 2005:2) memperjelas definisi tersebut “Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi informasi komunikasi untuk mengirimkan informasi.

Sementara itu, pengertian teknologi komunikasi atau biasa disebut juga teknologi telekomunikasi adalah teknologi yang berhubungan dengan komunkasi jarak jauh. Termasuk dalam kategori teknologi ini adalah telepon, radio, dan televisi (Kadir, 2005:3). Teknologi komunikasi di definisikan pula sebagai peralatan perangkat keras (hardware) dalam sebuah struktur organisasi yang mengandung nilai-nilai sosial, yang memungkinkan setiap individu mengumpulkan, memproses, dan saling tukar menukar informasi dengan individu-individu lainnya

Jadi, dari beberapa definisi di atas secara sederhana dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi Komunikasi merupakan perangkat keras dan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, juga mencakup untuk mengirimkan informasi oleh individu kepada individu-individu lainnya atau kelompok organisasi.

Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) sebagai suatu produk dan proses telah berkembang sedemikian rupa sehingga mempengaruhi segenap kehidupan kita dalam berbagai bentuk aplikasi. Alvin Toffler (dalam Miarso, 2011: 302) menggambarkan perkembangan itu sebagai revolusi yang berlangsung dalam tiga gelombang. Gelombang pertama timbul dalam bentuk teknologi pertanian, gelombang kedua ditandai dengan adanya teknologi industri, dan gelombang ketiga merupakan revolusi teknologi elektronik dan informatika. Teknologi terakhir ini mendorong timbulnya “telecommunity”. Toffler juga menyatakan bahwa keputusan pemerintah Indonesia untuk mengembangkan sistem komunikasi setelit domestik merupakan lambang dimulainya transformasi.

Teknologi komunikasi dan informasi sebagai Penetrasi TIK ke dalam dunia pendidikan tak terlepas dari daya TIK itu sendiri sebagai alat yang menjanjikan berbagai macam kemudahan dan keefisienan dalam pengelolaan suatu institusi pendidikan. Kedua, kelebihan TIK ini dipromosikan dengan sangat gencar oleh industri TIK dan kemudian diadopsi dan diterjemahkan oleh pihak manajemen pendidikan ke dalam bentuk kebijakan pemanfaatan TIK di institusi masing-masing. Kerangka kerja strategi TIK atau kebijakan TIK pada saat ini merupakan dokumen standar bagi suatu institusi pendidikan di berbagai. Negara maju sebagai cerminan sikap dalam mengambil posisi terhadap peran TIK. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Indonesia juga mempunyai dokumen yang sama dengan nama Strategi TIK Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Ruang lingkup atau isi cakupan yang terdapat dalam dokumen kebijakan pemanfaatan TIK tersebut bervariasi, karena disesuaikan dengan kondisi Perguruan Tinggi dan perkembangan TIK di Negara masing-masing. Hal ini tampak dari komponen-komponen utama yang mereka tuangkan secara eksplisit dalam dokumen tersebut.

Bagi institusi penyelenggara PJJ, wacana dan praktek  pemanfaatan TIK bukan hal baru karena pola pngelolaan PJJ yang bersifat bisnis semacam industri seperti yang diungkapkan oleh Keegan (dalam Asandhimitra, 2004: 555). Aktivitas utama dalam PJJ seperti pengelolaan data registrasi, pengembangan dan bahan ajar, pemberian bantuan belajar atau tutorial, pengelolaan data pengujian, dan sebagainya tidak terlepas dari TIK dengan tingkat kedalaman peran dan kecanggihan yang beragam diantara institusi PJJ. Pemanfaatan komputer dengan berbagai macam program atau aplikasi “genetik” (missal: administrsi umum, persuratan, keuangan, dan kepegawaian) yang biasa digunakan di dunia bisnis atau komersial juga telah digunakan oleh intitusi PJJ, bahkan sebelum istilah TIK itu sendiri muncul pada dekade sembilan puluhan. Meskipun saat ini sangat banyak aplikasi yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh institusi PJJ, aplikasi-aplikasi tersebut tampaknya terbagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu aplikasi untuk kepentingan adminstrasi atau manjemen dan aplikasi untuk kepentingan akademis atau pembelajaran.

 

1. Aspek TIK dalam manajemen PJJ

Terry (dalam Winardi, 1983: 4) mendefinisikan manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan, peng-organisasian, menggerakkan, dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lainnya.

Manajemen suatu institusi penyelenggaraan PJJ berdimensi sangat luas. Manajemen institusi pada umumnya akan meliputi bidang-bidang adminstrasi umum, keuangan, kepegawaian, pengelolahan data registrasi, produksi dan pengiriman bahan ajar, pengolahan tutorial, dan produksi pengiriman bahan ujian, serta pengelolaan hasil ujian. Jika matriks dibuat dengan memasukan masing-masing komponen yang terdapat dua sisi tersebut maka akan muncul sejumlah kombinasi komponen manajemen dan PJJ serta TIK akan mempunyai peran spesifik atau beragam.

Secara sederhana dipahami bahwa dengan adanya TIK dalam manajemen PJJ dapat mempermudah dalam pengelolaan baik itu sistem administrasi umum, keuangan, kepegawaian, pengelolaan data registrasi, produksi dan pengiriman bahan ajar, pengolahan tutorial, dan produksi pengiriman bahan ujian, serta pengelolaan hasil ujian. Sehingga dengan demikian manajemen PJJ akan menjadi lebih mudah terkontrol.

2. Aspek TIK dalam Kegiatan Belajar PJJ

Ada enam bentuk interaksi pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam merancang sebuah media belajar interaktif untuk sistem PJJ. Menurut Heinich (Sanaky, 2011:203), bentuk-bentuk interaktif pembelajaran tersebut, antara alin berupa:

a)    Praktik dan latihan (drill and practice), dengan praktik dan latihan dalam pembelajaran diharapkan dapat menguasai suatu keterampilan tertentu apabila dilakukan secara terus menerus.

b)   Tutorial, dalam interaksi pembelajaran berbentuk tutorial, informasi dan pengetahuan dikomunikasikan sedemikian rupa seperti situasi pada waktu dosen yang member bimbingan akademik kepada mahasiswa.

c)    Permainan (games), interaksi berbentuk permainan (games) akan bersifat intruksional apabila pengetahuan dan keterampilan yang terdapat di dalamnya bersifat akademik dan mengandung unsure pelatihan (training).

d)   Simulasi (simulation), dalam interaksi ini dapat dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran.

e)    Penemuan (discovery), interaksi ini adalah istilah yang digunakan untuk mengganti istilah pendekatan induktif dalam proses belajar.

f)    Pemecahan masalah (problem solving). Yaitu member kemungkinan terhadap pembelajaran untuk melatih kemampuan dalam memecahkan sutau masalah.

Teknologi Informasi baik secara implisit maupun eksplisit tidak sekedar berupa teknologi komputer, tetapi juga mencakup teknologi telekomunikasi. Dengan kata lain, yang disebut teknologi informasi adalah gabungan antara teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi (Kadir, 2005: 2).

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001) dengan berkembangnya penggunaan  TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu (dalam Surya, 2006):

dari pelatihan ke penampilan,

dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja,

dari kertas ke “on line” atau saluran,

fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja,

dari waktu siklus ke waktu nyata.

Komunikasi sebagai media pendidikan  dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb.

Dalam konsep PJJ, salah satu karakter yang menonjol yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik PJJ adalah sifat mandiri, terutama dalam proses belajar. Terpisahnya peserta didik dan mengajar secara geografis membuat mereka suka atau tidak suka harus mengandalkan bahan ajar yang ada ditangannya. Meskipun hampir semua intitusi penyelenggaraan PJJ memberikan layanan tutorial tatap muka, para mahasiswa tidak selalu dapat memanfaatkan secara optimal karena terbatasnya waktu atau karena kendala teknis yang lain, seperti lokasi tutorial yang terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Hal semacam ini sebenarnya sudah diantisipasi oleh para penyelenggara PJJ dengan menekankan bahwa peranan media sangat penting dalam PJJ. Schramm (1981) mengatakan bahwa PJJ adalah pengajaran yang menggunakan media komunikasi untuk memperluas kesempatan belajar di luar kelas dan kampus, sehingga dimungkinkan terjadinya kontribusi keahlian mengajar secara lebih luas dibadingkan dengan apa yang dapat dilakukan oleh guru dan sekolah manapun (Asandhimitra, 2004: 557).

Peran TIK dalam kegiatan belajar PJJ yang menonjol pada awalnya sebagai tool untuk mengemas dan menyajikan media atau bahan belajar yang dikenal dengan “modul”. Suatu aplikasi penerbitan di atas meja (desktop-publishing) akan menghasilkan suatu modul yang bagus ditangan seorang desainer instruksional yang baik. Jika TIK tidak hanya diartikan sebagai komputer dan aplikasinya tapi diperluas dengan radio, televisi, telepon, dan internet. Maka makna peran TIK dalam PJJ juga meluas. TIK tidak hanya dapat dipandang sebagai alat untuk mengemas bahan ajar tetapi juga alat untuk menyampaikan bahan ajar atau dengan kata lain sebagai media yang menjembatani proses pembelajaran. Hal ini dapat dicerminkan dalam bentuk-bentuk pembelajaran melalui tutorial radio, televisi, telepon,  internet, dan sebagainya.

Khusus mengenai TIK dalam arti teknologi internet, perannya dalam berbagai bidang termasuk dalam PJJ, sangat luar biasa. Internet praktis mampu mengatasi berbagai kendala atau memperkaya proses belajar peserta didik PJJ yang termuat dalam enam karakteristik PJJ yang dikemukakan oleh Keegan (1980). Keenam karakter tersebut adalah (Asandhimitra, 2004: 558):

1)   Adanya keterpisahan antara guru dan siswa selama proses belajar,

2)   Adanya pengaruh dari institusi penyelenggara sehingga membedakannya dengan belajar sendiri di rumah,

3)   Adanya pemanfaatan media yang beragam baik elektronik maupun non elektronik,

4)   Tersedianya fasilitas komunikasi dua arah,

5)   Adanya pertemuan yang tidak terlalu sering, baik untuk ke[entingan belajar kelompok maupun sosialisasi, dan

6)   Adanya proses pengelolaan yang mirip dengan manajemen di dunia industri.

Siginifikansi peran internet yang cukup ekstrim dalam proses belajar PJJ adalah kemampuannya sebagai komunikasi interaktif secara virtual antara tutor-mahasiswa dan antar mahasiswa. Perkembangan terakhir di Negara maju menunjukkan bahwa komuniksi interaktif seperti ini tidak ubahnya seperti komunikasi yang terjadi di ruang kelas dalam kuliah tatap muka. Diskusi lisan dan tertulis secara bersamaan antar pengajar dan peserta didik yang berada dibenua yang berbeda dimungkinkan karena adanya TIK dalam arti internet.

 D.  Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan dan Institusi Pendidikan Jarak Jauh: Universitas Terbuka.

Dalam era internet dan perkembangan TIK yang sangat cepat seperti saat ini, wacana infrastruktur komunikasi, hardware, software, SDM, budaya kerja TIK dan sebagainya sebaiknya menjadi suatu masalah bersama yang bisa dikaji oleh antar institusi PJJ. Perbedaan pengalaman pemanfaatan TIK suatu institusi PJJ yang satu dengan yang lain menarik untuk dipelajari karena peluang untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh akan terbuka. Berikut ini ilustrasi pemanfaatan TIK di institusi penyelenggara PJJ di Indonesia yang dikenal dengan Universitas Terbuka (UT).

UT merupakan terobasan dari pemerintah yang dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Terobosan tersebut merupakan hasil dari proses pembahasan dengan mengkaji berbagai pengalaman PJJ di Indonesia dan Negara lainnya, seperti India (Indira Gandhi National Open University), Thailand (Sukothai Thammatirat Open University), Korea (Korean Open University), Inggris (British Open University). Di Indonesia UT didirikan pada bulan September 1984 dengan Keputusan Presiden, dengan tujuan utama menyediakan akses pendidikan tinggi bagi lulusan sekolah menengah dan menyediakan program peningkatan kualifikasi bagi tenaga profesional, khususnya bagi guru (Prawiradilaga, 2004: 265-267).

  1. Sekilas TIK di UT

Kebutuhan dasar akan TIK sebagai alat dalam sistem PJJ seperti UT tampak nyata sekali ketika UT dihadapkan pada proses pengolahan data mahasiswa secara massal. Dalam proses pendirian UT, unit khusus pengolahan data telah didesain dan difungsikan sebagai salah satu bagian esensial, dari unit pendukung operasional UT. Pertama, pada tahun 1984, UT melakukan investasi dalam hal penyediaan sarana dan prasarana utuk unit pendukung tersebut yang dikenal dengan pusat komputer UT.

Kedua, peran TIK yang juga cukup menonjol dalam masa awal berdirinya UT adalah dalam hal penyiapan bahan ajar. Dalam penyediaan atau penulis modul, UT memilih melakukan investasi dengan membeli Komputer Apple II dengan pengolah kata wordstar.

Perkembangan pemanfaatan di UT semakin meningkat dari tahun ke tahun, baik ragam maupun kualitasnya. Ragam yang dimaksud adalah spesifikasi perangkat keras, perangkat lunak, dan jeis-jenis aplikasi lain yang dibutuhkan oleh UT.

Ketika teknologi internet mulai popular, UT mengintroduksikan teknologi tersebut pada civitas akademika UT yang dimulai dilingkungan para staf UT. Beberapa hal yang didapat dicatat sehubungan perkembangan penggunaan internet di UT, kurang lebih dapat digambarkan secara kronologis seperti tertera dalam tabel 1 (Asandhimitra, 2004: 561-562).

 

Tabel I.

Perkembangan Pemanfataan Internet di UT

Dari tahun ke tahun mulai dari tahun 1994-2001

Tahun   Aktivitas
1994 0 Introduksi kode akses internet pribadi (personal account) bagi karyawan UT
1995 0

0

Introduksi kode akses internet via institusi (corporate account) bagi karyawan UT

Walaupun secara kronologis pemanfaatan TIK UT mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, UT pada dasarnya belum memiliki rencana induk pemanfatan TIK. UT masih bersifat reaktif terhadap kebutuhan TIK baik dalam arti perbaikan dengan pendekatan tambal sulam, maupun dengan menguji coba teknologi baru sebagai reaksi terhadap pertumbuhan atau perkembanga TIK di luar.

Secara spesifik, menurut Indrajit (2000) beberapa sebab timbulnya pendekatan tambal sulam, antara alain adanya berbagai perubahan dalam struktur organisasi, proses, standar, atau prosedur dalam sutau institusi.Pendekatan semacam ini dalam beberapa hal tidak menguntungkan karena UT terjebak dalam rutinitas dan penyeleesaian masalah yang insidental di lapangan. Kelemahan terbesarnya adalah UT tidak punya gambaran tentang kuantitas masalah potensial. Penyelesaian masalah yang bersifat reaktif, walaupun terselesaikan, akan tetap mengganggu maajemen UT sehari-hari. Misalnya, jika ada masalah teknis dalam jaringan UT, maka aktivitas akan terganggu dalam ukuran menit, jam, atau hari, yang lebih sering tidak dapat diramalkan.

  1. Kebutuhan Terhadap Rencana Induk TIK

Seperti yang telah disampaikan dalam uraian pengantar pendekatan tambal sula di atas, salah satu timbulnya fenomena atau pendekatan tersebut karena institusi tidak mempunyai rencana induk TIK. Secara ideal, pengembangan rencana induk TIK suatu institusi emrupakan bagian yang tidak terlepas dengan rencana induk pengembangan institusi itu sendiri. Dengan demikian, TIK dapat dipergunakan sebagai alat untuk meng-akselerasi dan meng-optimalkan seluruh aktivitas operasional institusi yang bersangkutan untuk mencapai visi dan misinya.

Dengan memandang UT sebagai institusi penyelenggara PJJ, aktivitas operasional UT secara keseluruhan menurut Setijadi (2001) dapat digambarkan seperti pada gambar I berikut ini.

Jika dipandang dari perspektif pemanfaatan TIK, keseluruhan proses aktivitas operasional pada gambar 1. tersebut dapat dikategorisasikan yang secara garis besar dapat dipetakan seperti pada gambar 2. Berikut ini (Asandhimitra, 2004 : 566).

  1. Pemanfataan TIK sekarang dan yang akan datang.

Pemanfataan TIK di UT sampai saat ini dapat dikatakan cukup intens karena TIK merupakan bagian integral yang mempunyai peran penting dalam manajemen UT sehari-hari. Pengolahan data registrasi, pengembangan dan distribusi bahan ajar dan ujian serta berbagai aktivitas adminstratif seperti dalam bagian kepegawaian, perencanaan, da keuangan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan TIK. Berbagai macam aplikasi yang terdapat diberbagai sector aktivitas operasional UT pada dasarnya sudah dikmbangkan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003, beberapa aplikasi tersebut secara bertahap disempurnakan dan di integrasikan dalam suatu system pangkalan data UT. Dalam system pangkalan data ini, terkoneksi delapan subsistem pangkalan data yang masing-masing adalah : Student Record System (SRS), bahan ajar, ketatalaksnaan, kepegawaian, perpustakaan, set dan manajemen, penelitian dan Abdimas, dan distribusi bahan ajar. Dalam perspektif sekarang-kemudian, Anggoro (2001) dalam Escalating TIK Utilization at Universitas Terbuka mengidentifikasi beberapa komponen TIK yang sudah ada pada waktu itu an komponen TIK lain yang kemudian perlu dikembangkan dan dimanfaatkan oleh UT dalam konteks penyelenggaraan pendidikan jarak jauh. Hasil identifikasi tersebut adalah seperti yang terdapat pada table 2 (Asandhimitra, 2004: 569-570).

 Tabel 2

Komponen TIK UT sebagai Institusi Penyelenggaraan

Pendidikan TInggi Jaraka Jauh

Tahun 2001 (sekarang) Kemudian
Registrasi
Prosedur: Formulir isian atau formulir yang dapat di-skan (scanable form) Formulir isian dan registrasi online
Catalog: bahan pencetak Bahan cetak dan online katalog
Pembayaran SPP: formulir pembayaran via pos Indonesia Kantor pos dan pembayaran online
Alih kredit: formulir isian alih kredit Formulir isian dan alih kredit online
Bahan Ajar
Bahan ajar utama: cetak Cetak, online, dan multimedia
Bahan ajar suplemen: audio, video, dan berbasis internet Dipertahankan tapi kualitas ditingkatkan
Pencetakan: kantor pusat UT Cetak jarak jauh di UPBJJ
Peng-arsipan: kertas dan digital Dipertahankan tapi didukung dengan system pangkalan data yang memadai
Distribusi: jasa kantor pos Pembelian online
Komunikasi dengan pengembang bahan ajar: pertemuan dan korespondensi Komunikasi Berbasis Internet Seperti Surat-E (E-mail) dan FTP
Bantuan Belajar
Belajar mandiri: UT tidak mempunyai kontrol Dipertahankan namun perlu ada intervensi dari UT dalam bentuk: petunjuk belajar mandiri online dan konseling lewan Surat-E
Kelompok belajar mahasiswa: inisiatif mahasiswa, UT mempunyai kontrol terbatas Dipertahankan UT Pusat perlu mempunyai system pangkalan kelompok belajar mahasiswa
Tutorial: tatap muka, tertulis, radio, televise, dan internet. Dipertahankan tapi didukung dengan ktersediaan system pangkalan tutorial yang terintegrasi.
Perpustakaan: Buku hanya dipinjamkan untuk staf, tidak untuk dipinjamkan kepada mahasiswa Digital Library denga memberikan pelayanan pada mahasiswa, public, dan staf UT
Ujian  
Pegembangan soal : Kertas Fasilitas online untuk pengembangan soal
Penyimpaan: kertas dan digital Digial, Bank Soal dengan system keamanan yang tinggi
Distribusi: Kantor pos dan alat transportasi UT Cetak jarak jauh di UPBJJ UT
Penyelenggaraan: Lokal dengan menggunakan lembar jawaban formulir yang bisa di-skan Dipertahankan dan disediakan fasilitas ujian online
Administrasi Umum dan Akademik
Pangkalan Data Mahasiswa: SRS Dipertahankan dan disempurnakan
Keuangan: Manual dan Komputer dengan aplikasi sederhana System akuntansi yang hadal dan aman
Kepegawaian: manual dan Komputer dengan aplikasi sederhana Pangkalan data Sumber Daya Manusia
Pengadaan Sarana: manual dan computer dengan aplikasi sederhana. System pengadaan suara.
  1. E.  Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan dan Institusi Pendidikan Jarak Jauh: Universitas Terbuka Palembang.

Profil Universitas Terbuka Palembang

Upaya pemerintah dalam mengembangkan PTJJ diawali dengan didirikannya Universitas Terbuka (UT) sebagai PTN ke-45 di Indonesia dan mulai menerima mahasiswa baru pada tahun 1984.

Dalam penyelenggaraan pendidikan, UT bekerjasama dengan semua perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia. Pada setiap kota PTN tersedia unit layanan UT yang disebut Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ). PTN tersebut berperan sebagai pembina UPBJJ serta membantu dalam penulisan bahan ajar, tutorial, praktikum dan ujian.

Di Palembang UT beralamatkan Jl. Sultan Muhammad Mansyur, Kec. Ilir Barat I, Bukit Lama, Palembang 30139. Telp. 0711- 443993, 443994; Faks. 0711- 443992 E-mail: Dengan Perguruan Tinggi Pembina Universitas Sriwijaya Palembang.

Jumlah mahasiswa UPBJJ-UT Palembang sebanyak 24 ribu mahasiswa dan 22 ribu diantaranya adalah mahasiswa Prodi Pendidikan dasar (Pendas) yang terdiri dari S1 PGSD,PG PAUD dan D2 Pendidikan Olahraga. Selebihnya  merupakan mahasiswa Prodi Non Pendidikan Dasar (Non Pendas). “ Saat ini kami juga membuka D2 Prodi Perpustakaan dilatarbelakangi oleh banyaknya kebutuhan pustakawan di sekolah-sekolah daerah,” imbuhnya seraya menambahkan terdapat 30 orang mahasiswa D2 Perpustakaan UPBJJ-UT Palembang di Oku Selatan dan 60 orang mahasiswa di Prabumulih.

Pada Tanggal 5 Mei 2011 Gedung Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT Palembang baru saja diresmikan oleh Wakil Menteri Pendidikan RI Prof.Dr. Fasli Jalal melalui Video Conference yang disaksikan langsung oleh kepala UPBJJ-UT Palembang Drs. Jamaluddin,M.Si, Kepala Bidang Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Diknas Provinsi Sumsel Romzid,S.Pd.MM,  dan Pembantu Rektor IV Unsri dr.H.A. Hamid Rasyid.

Peresmian gedung baru ini dilakukan serentak di tujuh kota lainnya yaitu Banda Aceh, Pekanbaru, Semarang, Malang, Ternate, Palangkaraya dan Banjarmasin. Disamping itu peresmian gedung ini juga meng-agendakan penandatanganan prasasti 11 gedung oleh Wakil Mendiknas yang di dampingi oleh Rektor UT Prof.Dr. Tian Belawati,Ph.D di Balai Sidang Universitas Terbuka (UT) Pondok Cabe Tangerang.

Dalam wawacaranya dengan Sumsel Post, Kepala UPBJJ-UT Palembang mengatakan karena padat jadwal kegiatan akademik maupun non akademik yang diselenggarakan UPBJJ-UT maka peresmian tersebut baru dilaksanakan hari ini (5/5). “Sementara gedungnya sendiri sudah selesai pembangunannya sejak Agustus 2009,” ungkap Jamaluddin.

”Terkait fasilitasnya  yang ada di gedung ini merupakan milik sendiri, semua staf di lingkup UPBJJ-UT Palembang bisa menggunakan fasilitas komputer online dilengkapi internet,  ruang tutorial video conference yang bisa digunakan untuk berhubungan dengan UT Pusat ataupun dengan UPBJJ dari daerah lain, dan media Sistem Ujian Online (SUO) dan tutorial online bagi mahasiswa,” papar Jamaluddin

Menyimak dari berita di atas, secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa, TIK peranannya pada UT Palembang sama saja seperti pada Universitas Terbuka lainnya. Penggunaan TIK tertera dalam manajemen dan pada kegiatan pembelajaran.

  1. F.   Kesimpulan

Dari pembahasan-pembahasan di atas secara sederhana dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pendidikan jarak jauh adalah sekumpulan metoda pengajaran dimana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar, yang merupakan ciri khas dari pendidikan jarak jauh.
  2. Sistem pendidikan jarak jauh merupakan suatu alternatif pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Rambu-rambu kebijakan dalam pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh Secara tersurat termaktub di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional”. Rumusan tentang PJJ terlihat pada BAB VI Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan pada Bagian Kesepuluh PJJ pada Pasal 31, ayat 1-4.
  3. Pada PJJ, peran TIK dapat di aplikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu: 1). Aspek TIK dalam manajemen PJJ, dan 2) Apek TIK dalam kegiatan belajar PJJ.
  4. UT yang merupakan terobosan dari pemerintah dari hasil kajian berbagai pengalaman PJJ di Indonesia dan Negara lainnya. Tepatnya UT didirikan pada September 1984.
  5. UT sebagai salah satu institusi PJJ telah memanfaatkan TIK sejak institusi tersebut berdiri. TIK dapat dimanfaatkan dalam seluruh sektor aktivitas operasional suatu institusi PJJ, mulai dari proses registrasi mahasiswa sampai mahasiswa tersebut wisuda.
  6. Peran TIK pada Universitas Terbuka, khususnya UT Palembang dapat dilihat dari wacana berikut ini : “Tanggal  5 Mei 2011 peresmian gedung baru secara serentak dengan tujuh kota lainnya melalui Video Conferene oleh Wakil Menteri Pendidikan RI Prof.Dr.Fasli Jalal. Gedung baru tersebut dilengkapi dengan fasilitas komputer online, ruang tutorial conference yang dapat digunakan untuk berhubungan dengan UT Pusat/UPBJJ, dan media Sistem Ujian Online (SUO) dan tutorial online bagi mahasiswa”.

Daftar Pustaka

Asandhimitra, dkk. 2004. PendidikanTinggi Jarak Jauh.  Jakarta: Universitas Terbuka.

Departemen Pendidikan Nasional Universitas Terbuka. 2009. Katalog Centre of Excellence of Asia 2010 and the World 2020. Jakarta: Universitas Terbuka

Kadir, Abdul dkk. 2005. Pengenalan Teknologi Informasi. Yogyakarta: Andi

Miarso, Yusufhadi. 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Prawiradilaga, Dewi Salma, dan Evelin Siregar. 2008. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sanaky, Hujair AH. 2011. Media Pembelajaran Buku Pegangan wajib Guru dan Dosen. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.

Smaldino, Sharon E, dkk. 2011. Intructional Technology & Media For Learning Teknologi Pembelajaran dan Media untuk Belajar. Jakarta: Kencana.

Surya, Mohammad. 2006. Makalah dalam Seminar ”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”, diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas, tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta.

Winardi. 1983. Asas-asas Manajemen. Bandung: Penerbit Alum

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s